Penduduk Desa Ture, kecamatan Pemayung, kabupaten Batang Hari berjumlah 2.255 jiwa dan jumlah lansia umur lebih 60 tahun 96 orang, bertambah dari tahun lalu hanya 72 orang. Dari 96 orang lansia 11 diantaranya harus mendapatkan perawatan keluarga untuk memenuhi semua kebutuhannya. Lansia yang mandiri secara ekonomi 63 orang dan bergantung secara ekonomi pada anak dan keluarga sebanyak 22 orang. Dari data tersebut banyak lansia masih mandiri secara ekonomi dan menjadi pencari nafkah utama bagi dirinya sendiri maupun keluarga. Masih aktif bermasyarakat dan bersosialisasi dilingkungan tempat tinggal. Diantaranya menjadi tuan bagi beberapa pekerja dan karyawannya.
Menjadi tua adalah sunatullah bila dianugerahi umur yang panjang. Bagaimana menjalani masa tua yang sehat, sejahtera dan bermartabat?. Itu adalah sesuatu yang harus dipersiapkan saat masih muda dan produktif. Upaya lain adalah intervensi sejak awal siklus kehidupan manusia. Mulai dari program 1000 hari pertama kehidupan. Intervensi asupan gizi yang memadai sejak dalam kandungan, saat bayi, balita, dan selalu menambah pengetahuan dan memperbaharui informasi. Penelitian menunjukkan balita yang kurang gizi kecenderungan menderita penyakit degeneratif dimasa tua.
Banyaknya lansia bukan suatu beban bagi keluarga, jika mereka produktif. BKKBN mengembangkan program lansia tangguh. Bekerja sama melalui lintas program dan lintas sektoral. Pemerintahan desa, Puskesmas dan Penyuluh KB sebagai pembina Bina Keluarga Lansia (BKL) Desa Ture, menaruh perhatian besar pada kesejahteraan dan kesehatan para lansia.
Dibentuk pada tahun 2015 lalu, BKL Jingga tetap berjalan. BKL Jingga desa Ture bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia. Melalui pemberdayaan dan edukasi keluarga yang mempunyai lansia. Berupaya agar lansia tetap mandiri, produktif, memperpanjang usia bekerja, aktif, bahagia dan sejahtera. Mengayomi lansia yang hidup sendirian. Kegiatan yang dilakukan berupa:
Penyuluhan,
Kunjungan rumah,
Memfasilitasi pelatihan: untuk kader BKL Jingga, anggota BKL Jingga dan lansia itu sendiri.
Rujukan medis dan rehabilitasi bekerja sama dengan petugas kesehatan.
Pencatatan pelaporan.
Melalui semua kegiatan dan intervensi tujuan akhir BKL adalah lansia lebih sehat, sehingga tidak merepotkan anggota keluarga, khususnya perempuan untuk merawat mereka. Sebab saat ini sudah makin banyak perempuan bekerja di sektor formal. Kalau lansia tidak bisa mandiri akan banyak lansia terlantar.
Lansia di atas 70 tahun sampai 80 tahun diharapkan bisa mengurus dirinya sendiri. Keluarga mampu merawat dan memahami kebutuhan lansia yang berusia di atas usia 80 tahun yang membutuhkan pendampingan melalui home care atau pengobatan di rumah.
Semua upaya itu perlu di dukung dengan kemampuan kesehatan dan fasilitas publik yang berpihak pada lansia agar tetap bisa berkarya. Mulai dari keadaan rumah yang memudahkan lansia beraktivitas di rumah. Keadaan kamar mandi yang tidak licin, wc yang berempati terhadap keadaan lansia contoh menyediakan wc duduk. Mencegah terjadinya kecelakaan di rumah. Menyediakan alat bantu untuk lansia berpindah, tongkat atau kursi roda. Bila perlu membuat pegangan di dinding untuk membantu lansia berpindah dari ruangan satu ke ruangan lain.
Penuaan datang bersama masalah-masalah yang menyertainya, kita sudah harus menyiapkan diri dari sekarang. Tujuh dimensi penting yang perlu diketahui para lansia juga para keluarga yang merawat para masyarakat lanjut usia ini untuk mendukung kehidupan lansia.
1. Dimensi Spiritual.
Para lansia bisa belajar untuk menerima keadaan bahwa ia mengalami perubahan fisik dan psikis saat menjadi lansia. Dimensi spiritual bisa diperkuat dengan mendekatkan diri dalam kegiatan rohani, mengikuti pengajian dan mendengarkan morotal Al Qur´an. Dengan begitu, lansia bisa lebih tawakal dan lebih bijaksana.
2. Dimensi Intelektual.
Penting sekali para lansia bisa dilatih unsur intelektual mereka. Salah satu caranya adalah dengan permainan mengisi teka teki silang, bermain catur, mendongeng, mengaji, membaca atau bahkan mengajak bermain kartu remi. Kegiatan sederhana itu bisa membantu agar kemampuan otak lansia tidak menurun, karena mereka terus diajak berpikir. Dengan kegiatan itu, otak lansia jadi aktif terus.
3. Dimensi Hobi.
Mengembangkan hobi sangat penting untuk dilakukan para lansia. Melakukan kegiatan hobi bisa membantu masyarakat lansia tetap gembira dan hal itu bisa mengurangi berbagai penyakit psikis yang bisa dialami masyarakat lansia.
4. Dimensi Kesehatan Fisik.
Para lansia biasanya sudah mengalami penurunan kesehatan fisik. Untuk itu disarankan untuk selalu mengajak para lansia tetap beraktivitas fisik. Para keluarga bisa mengajak lansia untuk bergerak minimal berjalan dengan berkala. Dengan bergerak, tubuh lansia bisa terus terlatih.
5. Dimensi Vokasional.
Lansia biasanya memiliki keahlian masing-masing. Ada yang ahli membuat anyaman, ada yang ahli menulis atau mengajar. Dengan mengembangkan keahlian, para lansia akan merasa tetap berguna sehingga merasa bangga dengan tetap eksis atas keahliannya di masyarakat.
Kita membutuhkan lansia untuk memberikan banyak masukan, pertimbangannya tentang risiko sebuah pekerjaan berdasarkan pengalamannya. Para lansia bisa sebagai narasumber tentang suatu kegiatan sesuai keahliannya.
6. Dimensi Sosial.
Lansia cenderung menyendiri. Dengan mengembangkan dimensi sosial, maka lansia bisa bergaul dan memiliki banyak teman seusianya. Jadi kalau lansia mau reuni, atau arisan, biarkan saja. Kalau dilarang dan diomeli melulu, mereka bisa merasa terpuruk.
7. Dimensi Lingkungan.
Penting sekali memiliki lingkungan yang ramah lansia. Ada beberapa lansia yang memiliki keterbatasan fisik sehingga mereka membutuhkan beberapa alat bantu dalam bergerak. Misalnya, bagi lansia yang mengenakan kursi roda perlu diberikan jalan yang tidak bertangga. Contoh lain, di toilet rumah, bisa ditambah wc duduk dan pegangan karena dikhawatirkan para lansia memerlukannya untuk menyangga tubuh. Dimensi lingkungan di tempat- tempat umum dan pelayanan penting untuk dipikirkan semua pihak demi mendukung para lansia. Lansia di dahulukan saat antrian dan diberi tempat duduk saat di bus.
Kegiatan- kegiatan Kader BKL Jingga tahun 2020:
1. Mengkoordinasikan dan mengondisikan fasilitasi BKL Jingga.
2. Memfasilitasi lansia ikut pengajian, menambah pengetahuan agama tentang penyelenggaraan jenazah. Keluarga mengantar dan menyediakan sarana ibadah lansia. Kader memfasilitasi narasumber dan menyediakan tempat kegiatan.
3. Bekerja sama dengan Puskesmas dan bidan desa mengadakan senam lansia dan senam otak setiap Jum´at pagi. Mengadakan pemeriksaan kesehatan di Pos bindu.
4. Mendongeng untuk anak cucu sebelum tidur. Melibatkan lansia ikut kegiatan di rumah dan dilingkungan.
5. Memberdayakan lansia yang mapan dibidang ekonomi untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkungannya. Lansia menjadi tenaga ahli dibidang pekerjaan tertentu, menjadi konselor bagi generasi muda dan masyarakat.
6. Keluarga dan kader memfasilitasi lansia mengembangkan dan melanjutkan hobi bercocok tanam, memasak dan beternak. Memfasilitasi lansia meneruskan ke generasi muda yang hobi pencak silat dan berseloko Jambi.
7. Mengedukasi keluarga tentang perubahan fisik dan psikologi lansia sehingga keluarga bisa memahami lansia.
8. Memberikan edukasi tentang penyakit degeneratif dan cara perawatan lansia di rumah.
9. Melakukan kunjungan rumah bagi lansia yang hidup sendiri dan yang sedang sakit.
10. Mengedukasi keluarga agar lansia tidak terlantar.
11. Mengajukan usulan anggaran untuk kesejahteraan lansia ke pemerintahan Desa Ture saat musdes.
Rencana kedepan mengajukan ke anggaran Desa Ture untuk menunjang kegiatan BKL Jingga:
1. Alat cek kesehatan lansia
2. Makanan untuk lansia
3. Honor narasumber.
4. Biaya transportasi untuk mengantar lansia berobat dan bila dalam keadaan darurat.
5. Peningkatan insentif kader dari Rp.35.000,- menjadi Rp.70.000,-
Catatan Tambahan:
Bertambahnya umur harapan hidup memerlukan intervensi agar para lansia dapat tetap sehat, produktif dan mandiri. Dukungan dari keluarga dan semua pihak menjadikan lansia tangguh menghadapi dan melalui hari tuanya.
Lansia tangguh menjadi aset keluarga, masyarakat dan negara.
Penulis:
Nikawati, S.ST
PKB Ahli Muda
Batang Hari Jambi
Tulis Komentar